Home » , , » budidaya tanaman sawi caisim / cesim (menanam)

budidaya tanaman sawi caisim / cesim (menanam)

Posted by wasihin Putra Perwira
WA'SIHIN BLOG'S "coretan seorang blogger kampung", Updated at: Minggu, April 28, 2013

Posted by wasihin Putra Perwira on Minggu, 28 April 2013

sumber: dari berbagai sumber.

berikut penjelasanya tentang budidaya sawi
JENIS SAWI
A. KLASIFIKASI
BOTANI.
Divisi :
Spermatophyta.
Subdivisi :
Angiospermae.
Kelas :
Dicotyledonae.
Ordo : Rhoeadales
(Brassicales).
Famili : Cruciferae
(Brassicaceae).
Genus : Brassica.
Spesies : Brassica
Juncea.
B. JENIS-JENIS SAWI.
Secara umum
tanaman sawi
biasanya mempunyai
daun panjang, halus,
tidak berbulu, dan
tidak berkrop. Petani
kita hanya mengenal
3 macam sawi yang
biasa dibudidayakan
yaitu : sawi putih
(sawi jabung), sawi
hijau, dan sawi
huma. Sekarang ini
masyarakat lebih
mengenal caisim
alias sawi bakso.
Selain itu juga ada
pula jenis sawi
keriting dan sawi
sawi monumen.
Caisim alias sawi
bakso ada juga yang
menyebutnya sawi
cina., merupakan
jenis sawi yang
paling banyak
dijajakan di pasar-
pasae dewasa ini.
Tangkai daunnya
panjang, langsing,
berwarna putih
kehijauan. Daunnya
lebar memanjang,
tipis dan berwarna
hijau. Rasanya yang
renyah, segar,
dengan sedikit sekali
rasa pahit. Selain
enak ditumis atau
dioseng, juga untuk
pedangan mie bakso,
mie ayam, atau
restoran cina.
SYARAT TUMBUH
Sawi bukan tanaman
asli Indonesia,
menurut asalnya di
Asia. Karena
Indonesia
mempunyai
kecocokan terhadap
iklim, cuaca dan
tanahnya sehingga
dikembangkan di
Indonesia ini.
Tanaman sawi dapat
tumbuh baik di
tempat yang
berhawa panas
maupun berhawa
dingin, sehingga
dapat diusahakan
dari dataran rendah
maupun dataran
tinggi. Meskipun
demikian pada
kenyataannya hasil
yang diperoleh lebih
baik di dataran
tinggi.
Daerah penanaman
yang cocok adalah
mulai dari ketinggian
5 meter sampai
dengan 1.200 meter
di atas permukaan
laut. Namun
biasanya
dibudidayakan pada
daerah yang
mempunyai
ketinggian 100
meter sampai 500
meter dpl.
Tanaman sawi tahan
terhadap air hujan,
sehingga dapat di
tanam sepanjang
tahun. Pada musim
kemarau yang perlu
diperhatikan adalah
penyiraman secara
teratur. Berhubung
dalam
pertumbuhannya
tanaman ini
membutuhkan hawa
yang sejuk. lebih
cepat tumbuh
apabila ditanam
dalam suasana
lembab. Akan tetapi
tanaman ini juga
tidak senang pada
air yang
menggenang.
Dengan demikian,
tanaman ini cocok
bils di tanam pada
akhir musim
penghujan.
Tanah yang cocok
untuk ditanami sawi
adalah tanah
gembur, banyak
mengandung humus,
subur, serta
pembuangan airnya
baik. Derajat
kemasaman (pH)
tanah yang optimum
untuk
pertumbuhannya
adalah antara pH 6
sampai pH 7.
BUDIDAYA TANAMAN
SAWI
Cara bertanam sawi
sesungguhnya tak
berbeda jauh dengan
budidaya sayuran
pada umumnya.
Budidaya
konvensional di
lahan meliputi proses
pengolahan lahan,
penyiapan benih,
teknik penanaman,
penyediaan pupuk
dan pestisida, serta
pemeliharaan
tanaman.
Sawi dapat ditanam
secara monokultur
maupun tunmpang
sari. Tanaman yang
dapat
ditumpangsarikan
antara lain : bawang
dau, wortel, bayam,
kangkung darat.
Sedangkan
menanam benih sawi
ada yang secara
langsung tetapi ada
juga melalui
pembibitan terlebih
dahulu.
Berikut ini akan
dibahas mengenai
teknik budidaya sawi
secara konvensional
di lahan.
A. BENIH.
Benih merupakan
salah satu faktor
penentu
keberhasilan usaha
tani. Benih yang baik
akan menghasilkan
tanaman yang
tumbuh dengan
bagus. Kebutuhan
benih sawi untuk
setiap hektar lahan
tanam sebesar 750
gram.
Benih sawi
berbentuk bulat,
kecil-kecil.
Permukaannya licin
mengkilap dan agak
keras. Warna kulit
benih coklat
kehitaman. Benih
yang akan kita
gunakan harus
mempunyai kualitas
yang baik,
seandainya beli
harus kita
perhatikan lama
penyimpanan,
varietas, kadar air,
suhu dan tempat
menyimpannya.
Selain itu juga harus
memperhatikan
kemasan benih harus
utuh. kemasan yang
baik adalah dengan
alumunium foil.
Apabila benih yang
kita gunakan dari
hasil pananaman kita
harus
memperhatikan
kualitas benih itu,
misalnya tanaman
yang akan diambil
sebagai benih harus
berumur lebih dari 70
hari. Dan penanaman
sawi yang akan
dijadikan benih
terpisah dari
tanaman sawi yang
lain. Juga
memperhatikan
proses yang akan
dilakukan mesilnya
dengan dianginkan,
tempat
penyimpanan dan
diharapkan lama
penggunaan benih
tidak lebih dari 3
tahun.
B. PENGOLAHAN
TANAH.
Pengolahan tanah
secara umum
melakukan
penggemburan dan
pembuatan
bedengan. Tahap-
tahap pengemburan
yaitu pencangkulan
untuk memperbaiki
struktur tanah dan
sirkulasi udara dan
pemberian pupuk
dasar untuk
memperbaiki fisik
serta kimia tanah
yang akan
menambah
kesuburan lahan
yang akan kita
gunakan.
Tanah yang hendak
digemburkan harus
dibersihkan dari
bebatuan,
rerumputan, semak
atau pepohonan
yang tumbuh. Dan
bebas dari daerah
ternaungi, karena
tanaman sawi suka
pada cahaya
matahari secara
langsung.
Sedangkan
kedalaman tanah
yang dicangkul
sedalam 20 sampai
40 cm. Pemberian
pupuk organik
sangat baik untuk
penyiapan tanah.
Sebagai contoh
pemberian pupuk
kandang yang baik
yaitu 10 ton/ha.
Pupuk kandang
diberikan saat
penggemburan agar
cepat merata dan
bercampur dengan
tanah yang akan kita
gunakan.
Bila daerah yang
mempunyai pH
terlalu rendah
(asam) sebaiknya
dilakukan
pengapuran.
Pengapuran ini
bertujuan untuk
menaikkan derajad
keasam tanah,
pengapuran ini
dilakukan jauh-jauh
sebelum penanaman
benih, yaitu kira-kira
2 sampai 4 minggu
sebelumnya.
Sehingga waktu
yang baik dalam
melakukan
penggemburan
tanah yaitu 2 – 4
minggu sebelum
lahan hendak
ditanam. Jenis kapur
yang digunakan
adalah kapur kalsit
(CaCO3) atau dolomit
(CaMg(CO3)2).
C. PEMBIBITAN.
Pembibitan dapat
dilakukan
bersamaan dengan
pengolahan tanah
untuk penanaman.
Karena lebih efisien
dan benih akan lebih
cepat beradaptasi
terhadap
lingkungannya.
Sedang ukuran
bedengan
pembibitan yaitu
lebar 80 – 120 cm
dan panjangnya 1 –
3 meter. Curah hujan
lebih dari 200 mm/
bulan, tinggi
bedengan 20 – 30
cm.
Dua minggu sebelum
di tabur benih,
bedengan
pembibitan ditaburi
dengan pupuk
kandang lalu di
tambah 20 gram
urea, 10 gram TSP,
dan 7,5 gram Kcl.
Cara melakukan
pembibitan ialah
sebagai berikut :
benih ditabur, lalu
ditutupi tanah
setebal 1 – 2 cm,
lalu disiram dengan
sprayer, kemudian
diamati 3 – 5 hari
benih akan tumbuh
setelah berumur 3 –
4 minggu sejak
disemaikan tanaman
dipindahkan ke
bedengan.
D. PENANAMAN.
Bedengan dengan
ukuran lebar 120 cm
dan panjang sesuai
dengan ukuran petak
tanah. Tinggi bedeng
20 – 30 cm dengan
jarak antar bedeng
30 cm, seminggu
sebelum penanaman
dilakukan
pemupukan terlebih
dahulu yaitu pupuk
kandang 10 ton/ha,
TSP 100 kg/ha, Kcl 75
kg/ha. Sedang jarak
tanam dalam
bedengan 40 x 40
cm , 30 x 30 dan 20 x
20 cm.
Pilihlah bibit yang
baik, pindahkan bibit
dengan hati-hati, lalu
membuat lubang
dengan ukuran 4 –
8 x 6 – 10 cm.
E. PEMELIHARAAN.
Pemeliharaan adalah
hal yang penting.
Sehingga akan
sangat berpengaruh
terhadap hasil yang
akan didapat.
Pertama-tama yang
perlu diperhatikan
adalah penyiraman,
penyiraman ini
tergantung pada
musim, bila musim
penghujan dirasa
berlebih maka kita
perlu melakukan
pengurangan air
yang ada, tetapi
sebaliknya bila
musim kemarau tiba
kita harus
menambah air demi
kecukupan tanaman
sawi yang kita
tanam. Bila tidak
terlalu
panaspenyiraman
dilakukan sehari
cukup sekali sore
atau pagi hari.
Tahap selanjutnya
yaitu penjarangan,
penjarangan
dilakukan 2 minggu
setelah penanaman.
Caranya dengan
mencabut tanaman
yang tumbuh terlalu
rapat.
Selanjutnya tahap
yang dilakukan
adalah penyulaman,
penyulaman ialah
tindakan
penggantian
tanaman ini dengan
tanaman baru.
Caranya sangat
mudah yaitu
tanaman yang mati
atau terserang hama
dan penyakit diganti
dengan tanaman
yang baru.
Penyiangan biasanya
dilakukan 2 – 4 kali
selama masa
pertanaman sawi,
disesuaikan dengan
kondisi keberadaan
gulma pada bedeng
penanaman.
Biasanya penyiangan
dilakukan 1 atau 2
minggu setelah
penanaman. Apabila
perlu dilakukan
penggemburan dan
pengguludan
bersamaan dengan
penyiangan.
Pemupukan
tambahan diberikan
setelah 3 minggu
tanam, yaitu dengan
urea 50 kg/ha. Dapat
juga dengan satu
sendok the sekitar
25 gram dilarutkan
dalam 25 liter air
dapat disiramkan
untuk 5 m bedengan.
PENANAMAN
VERTIKULTUR
Langkah – angkah
penanaman secara
vertikultur adalah
sebagai berikut :
1. Benih disemaikan
pada kotak
persemaian denagn
media pasir. Bibit
dirawat hingga siap
ditanaman pada
umur 14 hari sejak
benih disemaikan.
2. Sediakan media
tanam berupa tanah
top soil, pupuk
kandang, pasir dan
kompos dengan
perbandingan 2:1:1:1
yang dicampur
secara merata.
3. Masukkan
campuran media
tanam tersebut ke
dalam polibag yang
berukuran 20 x 30
cm.
4. Pindahkan bibit
tanaman yang sudah
siap tanam ke dalam
polibag yang
tersedia. Tanaman
yang dipindahkan
biasanya telah
berdaun 3 – 5 helai.
5. Polibag yang
sudah ditanami
disusun pada rak-rak
yang tersedia pada
Lath House.
PENANAMAN
HIDROPONIK.
Langkah-langkah
penanaman secara
hidroponik adalah
sebagai berikut :
1. Siapkan wadah
persemaian .
Masukkan media
berupa pasir halus
yang disterilkan
setebal 3 – 4 cm.
Taburkan benih sawi
di atasnya
selanjutnya tutupi
kembali dengan
lapisan pasir setebal
0,5 cm.
2. Setelah bibit
tumbuh dan berdaun
3 – 5 helai (umur 3
– 4 minggu0, bibit
dicabut dengan hati-
hati, selanjutnya
bagian akarnya
dicuci dengan air
hingga bersih, akar
yang terlalu panjang
dapat digunting.
3. Bak penanaman
diisi bagian
bawahnya dengan
kerikil steril setebal
7 – 10 cm,
selanjutnya di
sebelah atas
ditambahkan lapisan
pasir kasar yang
juga sudah steril
setebal 20 cm.
4. Buat lubang
penanaman dengan
jarak sekitar 25 x 25
cm, masukkan bibit
ke lubang tersebut,
tutupi bagian akar
bibit dengan media
hingga melewati
leher akar, usahakan
posisi bibit tegak
lurus dengan media.
5. Berikan larutan
hidroponik lewat
penyiraman, dapat
pula pemberian
dilakukan dengan
sistem drip irigation
atau sistem lainnya,
tanaman baru
selanjutnya
dipelihara hingga
tumbuh besar.
HAMA DAN PENYAKIT
A. HAMA.
1. Ulat titik tumbuh
(Crocidolomia
binotalis Zell.).
2. Ulat tritip (Plutella
maculipennis).
3. Siput (Agriolimas
sp.).
4. Ulat Thepa
javanica.
5. Cacing bulu (cut
worm).
B. PENYAKIT.
1. Penyakit akar
pekuk.
2. Bercak daun
alternaria.
3. Busuk basah (soft
root).
4. Penyakit embun
tepung (downy
mildew).
5. Penyakit rebah
semai (dumping off).
6. Busuk daun.
7. busuk Rhizoctonia
(bottom root).
8. Bercak daun.
9. Virus mosaik.
PANEN DAN
PENANGANAN PASCA
PANEN.
Dalam hal
pemanenan penting
sekali diperhatikan
umur panen dan cara
panennya. Umur
panen sawi paling
lama 70 hari. Paling
pendek umur 40 hari.
Terlebih dahulu
melihat fisik
tanaman seperti
warna, bentuk dan
ukuran daun. Cara
panen ada 2 macam
yaitu mencabut
seluruh tanaman
beserta akarnya dan
dengan memotong
bagian pangkal
batang yang berada
di atas tanah dengan
pisau tajam.
Pasca panen sawi
yang perlu
diperhatikan adalah :
1. Pencucian dan
pembuangan
kotoran.
2. Sortasi.
3. Pengemasan.
4. Penympanan.
5. Pengolahan.

Share This Post :

1 balasan artikel:

selalu gunakanlah bahasa yang baik dan benar untuk berkomentar di blog ini. komentar yang mengandung material melanggar hukum dan agama akan admin hapus.

.

KLIK UNTUK MEMBANTU PERKEMBANGAN BLOG DAN UPDATE

cah ndeso yang penting kreatif www.bocahserang.blogspot.com
untuk donasi demi kemajuan blog silahkan klik link ini => DONASI

------TERIMA KASIH------

 
Copyright © 2015 WA'SIHIN BLOG'S "coretan seorang blogger kampung". All Rights Reserved
Template Johny Wuss Responsive by Creating Website and HINZHACK-BLOG